Muhasabah Diri


01 – Hai anakku: ketahuilah, sesungguhnya dunia ini bagaikan lautan yang dalam, banyak manusia yang karam
ke dalamnya. Bila engkau ingin selamat, agar jangan karam, layarilah lautan itu dengan SAMPAN yang bernama
TAKWA, ISInya ialah IMAN dan LAYARnya adalah TAWAKKAL kepada ALLAH.

02 – orang – orang yang sentiasa menyediakan dirinya untuk menerima nasihat, maka dirinya akan mendapat
penjagaan dari ALLAH. Orang yang insaf dan sadar setalah menerima nasihat orang lain, dia akan sentiasa
menerima kemulian dari ALLAH juga.

03 – Hai anakku; orang yang merasa dirinya hina dan rendah diri dalam beribadat dan taat kepada ALLAH,
maka dia tawadduk kepada ALLAH, dia akan lebih dekat kepada ALLAH dan selalu berusaha menghindarkan maksiat
kepada ALLAH.

04 – Hai anakku; seandainya ibubapamu marah kepadamu karena kesalahan yang dilakukanmu, maka marahnya
ibubapamu adalah bagaikan baja bagi tanam tanaman.

05 – Jauhkan dirimu dari berhutang, karena sesungguhnya berhutang itu boleh menjadikan dirimu
hina di waktu siang dan gelisah di waktu malam.

06 – Dan selalulah berharap kepada ALLAH tentang sesuatu yang menyebabkan untuk tidak mendurhakai
ALLAH. Takutlah kepada ALLAH dengan sebenar benar takut ( takwa ), tentulah engkau akan terlepas dari
sifat berputus asa dari rahmat ALLAH.

07 – Hai anakku; seorang pendusta akan lekas hilang air mukanya karena tidak dipercayai orang dan seorang
yang telah rusak akhlaknya akan sentiasa banyak melamunkan hal hal yang tidak benar. Ketahuilah,
memindahkan batu besar dari tempatnya semula itu lebih mudah daripada memberi pengertian kepada orang yang
tidak mahu mengerti.

08 – Hai anakku; engkau telah merasakan betapa beratnya mengangkat batu besar dan besi yang amat
berat, tetapi akan lebih lagi daripada semua itu, adalah bilamana engkau mempunyai tetangga (jiran) yang
jahat.

09 – Hai anakku; janganlah engkau mengirimkan orang yang bodoh sebagai utusan. Maka bila tidak ada orang
yang cerdik, sebaiknya dirimulah saja yang layak menjadi utusan.

10 – Jauhilah bersifat dusta, sebab dusta itu mudah dilakukan, bagaikan memakan daging burung, padahal
sedikit sahaja berdusta itu telah memberikan akibat yang berbahaya.

11 – Hai anakku; bila engkau mempunyai dua pilihan, takziah orang mati atau hadir majlis perkahwinan,
pilihlah untuk menziarahi orang mati, sebab ianya akan mengingatkanmu kepada kampung akhirat sedang kan
menghadiri pesta perkahwinan hanya mengingatkan dirimu kepada kesenangan duniawi sahaja.

12 – Janganlah engkau makan sampai kenyang yang berlebihan, kerana sesungguhnya makan yang terlalu
kenyang itu adalah lebih baiknya bila makanan itu diberikan kepada anjing sahaja.

13 – Hai anakku; janganlah engkau langsung menelan sahaja karena manisnya barang dan janganlah langsung
memuntahkan saja pahitnya sesuatu barang itu, karena manis belum tentu menimbulkan kesegaran dan pahit itu
belum tentu menimbulkan kesengsaraan.

14 – Makanlah makananmu bersama sama dengan orang orang yang takwa dan musyawarahlah urusanmu dengan
para alim ulamak dengan cara meminta nasihat dari mereka.

15 – Hai anakku; bukanlah satu kebaikan namanya bilamana engkau selalu mencari ilmu tetapi engkau
tidak pernah mengamalkannya. Hal itu tidak ubah bagaikan orang yang mencari kayu bakar, maka setelah
banyak ia tidak mampu memikulnya, padahal ia masih mau menambahkannya.

16 – Hai anakku; bilamana engkau mahu mencari kawan sejati, maka ujilah terlebih dahulu dengan berpura
pura membuat dia marah. Bilamana dalam kemarahan itu dia masih berusaha menginsafkan kamu,maka bolehlah
engkau mengambil dia sebagai kawan. Bila tidak demikian, maka berhati hatilah.

17 – Selalulah baik tuturkata dan halus budibahasamu serta manis wajahmu, dengan demikian engkau akan
disukai orang melebihi sukanya seseorang terhadap orang lain yang pernah memberikan barang yang berharga.

18 – Hai anakku; bila engkau berteman, tempatkanlah dirimu padanya sebagai orang yang tidak mengharapkan
sesuatu daripadanya. Namun biarkanlah dia yang mengharapkan sesuatu darimu.

19 – Jadikanlah dirimu dalam segala tingkahlaku sebagai orang yang tidak ingin menerima pujian atau
mengharap sanjungan orang lain kerana itu adalah sifat riya~ yang akan mendatangkan cela pada dirimu

20 – Hai anakku; janganlah engkau condong kepada urusan dunia dan hatimu selalu disusahkan olah dunia
saja kerana engkau diciptakan ALLAH bukanlah untuk dunia sahaja. Sesungguhnya tiada makhluk yang lebih
hina daripada orang yang terpedaya dengan dunianya

21 – Hai anakku; usahakanlah agar mulutmu jangan mengeluarkan kata kata yang busuk dan kotor serta
kasar, kerana engkau akan lebih selamat bila berdiam diri. Kalau berbicara, usahakanlah agar bicaramu
mendatangkan manfaat bagi orang lain

22 – Hai anakku; janganlah engkau mudah ketawa kalau bukan kerana sesuatu yang menggelikan, janganlah
engkau berjalan tanpa tujuan yang pasti, janganlah engkau bertanya sesuatu yang tidak ada guna bagimu,
janganlah mensia siakan hartamu

23 – Barang sesiapa yang penyayang tentu akan disayangi, sesiapa yang pendiam akan selamat daripada
berkata yang mengandungi racun, dan sesiapa yang tidak dapat menahan lidahnya dari berkata kotor tentu akan
menyesal.

24 – Hai anakku; bergaullah rapat dengan orang yang alim lagi berilmu. Perhatikanlah kata nasihatnya
kerana sesungguhnya sejuklah hati ini mendengarkan nasihatnya, hiduplah hati ini dengan cahaya hikmah
dari mutiara kata katanya bagaikan tanah yang subur lalu disirami air hujan.

25 – Hai anakku; ambillah harta dunia sekadar keperluanmu sahaja, dan nafkahkanlah yang selebihnya
untuk bekalan akhiratmu. Jangan engkau tendang dunia ini ke keranjang atau bakul sampah kerana nanti engkau
akan menjadi pengemis yang membuat beban orang lain. Sebaliknya janganlah engkau peluk dunia ini serta
meneguk habis airnya kerana sesungguhnya yang engkau makan dan pakai itu adalah tanah belaka. Janganlah
engkau bertemankan dengan orang yang bersifat talam dua muka, kelak akan membinasakan dirimu.

Berbicara tentang kematian seakan berbicara tentang sesuatu yang begitu menakutkan. Padahal kematian bukanlah persoalan yang luar biasa. Mengapa? Karena hakikatnya setiap manusia akan mengalaminya. Yang menjadi persoalan sesungguhnya adalah di hari Kiamat nanti amal-amal kita akan disempurnakan balasannya oleh Allah Swt. Hanya ada dua kemungkinan berdasarkan pemeriksaan amal-amal tersebut, orang yang dimasukkan ke dalam Surga, dan ada orang yang dimasukkan ke dalam Neraka. Tidak ada tempat yang ketiga di sana.

Karena itu Allah Swt berfirman: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Qs. Ali Imran: 185).

Maka tidak heran banyak di antara kita yang tertipu dengan kehidupan dunia ini sehingga lupa dengan akhiratnya. Dalam hidupnya ia sibuk mencari penghidupan dan kesenangan dunia dengan melupakan bekal akhiratnya. Sehingga ia juga lupa tidak mempersiapkan diri dengan bekal amal-amal kebaikan di dunianya.

Ada sebuah kisah yang masyhur tentang Kaisar Prancis, Napoleon. Alkisah, pada sebuah peperangan pasukan Prancis kalah oleh pasukan Rusia di musim dingin karena kehabisan bekal. Napoleon pun terpisah dari pasukannya dengan tubuh yang lelah, perasaan yang takut dan kedinginan yang menggigil. Dia kemudian lari memasuki sebuah kota kecil lalu dia ketuk pintu sebuah rumah. Terbukalah pintu itu dan muncul seorang laki-laki tua pengrajin bulu. Lalu Napoleon meminta pak tua ini untuk menyembunyikannya. Dia sampaikan bahwa dirinya sedang dikejar-kejar tentara Rusia untuk dibunuh. Kemudian, pak tua ini pun dengan iba hati membawa Napoleon masuk dan menyuruhnya bersembunyi di dalam tumpukan bulu-bulu.

Tidak lama berselang, datanglah tentara Rusia memasuki rumah pak tua. Mereka berkata, “Kami melihat ada orang asing masuk rumah ini. Dimanakah dia?”

Dengan gemetar pak tua menjawab, “Tidak ada orang lain di rumah ini tuan. Sungguh tidak ada. Kalau tuan tidak percaya silakan periksa.” Jelas pak tua berusaha untuk menyembunyikan Napoleon.

Kemudian pasukan ini memeriksa semua tempat yang mencurigakan. Salah seorang pasukan lalu mulai menusuk-nusukkan pedang ke setiap tumpukan bulu-bulu. Termasuk tumpukan tempat Napoleon bersembunyi. Melihat apa yang dilakukan pasukan Rusia, pak tua mulai gemetar, takut Napoleon ketahuan. Namun, mereka tidak menemukan Napoleon. Karena tidak menemukan orang yang dicari, pasukan Rusia pun kemudian keluar.

Setelah pasukan Rusia keluar pak tua kemudian tergopoh-gopoh mendekati tempat persembunyian Napoleon. Dia yakin kalau orang ini sudah mati. Tiba-tiba Napoleon merangkak keluar dari tumpukan bulu-bulu. Lalu pak tua dengan rasa senang bertanya, “Tuan, apa yang tuan rasakan tadi ketika pasukan Rusia menusuk tempat persemubunyian tuan dengan pedangnya. Bukankah salah satu tusukan bisa menamatkan hidup tuan?” Bersamaan dengan selesainya pertanyaan pak Tua, tiba-tiba pengawal Napoleon masuk.

Dengan gagah Napoleon kemudian berdiri sambil berkata, “Kurang ajar orang tua ini, dia tidak tahu siapa aku. Aku Napoleon, kaisar Prancis. Pertanyaan ini sangat lancang. Orang tua seperti ini hanya hukuman mati yang pantas untuknya! Aku sendiri yang akan memimpin eksekusi!” Mungkin Napoleon tersinggung ditanya seperti itu oleh pak tua.

Pak tua kaget setengah mati. Jantungnya seakan berhenti berdenyut. Keningnya mengkerut. Ini orang tidak tahu diri, sudah menolong sekarang malah mau dihukum mati. Pikirnya dalam hati.

Maka diseretlah bapak tua ini ke depan rumahnya lalu disuruh berdiri di depan regu tembak pasukan Prancis. Matanya kemudian ditutup dengan kain hitam. Suasana senyap sunyi.

Mulailah Napoleon menghitung, “Satu…!” Gemetarlah tubuh pak tua. Kakinya melemas seolah ada beban yang begitu maha berat dari atas langit berada di atas kepalanya. Beban yang tubuhnya tak sanggup lagi memikulnya.

Kemudian, “Dua…!” Di balik kain hitamnya pak tua mulai meneteskan air mata. Dia mulai ingat kesalahan-kesalahan masa lalunya. Mulailah terbayang wajah anak dan istrinya yang sangat dia sayangi pernah dia sakiti. Mulailah dia teringat dosa-dosanya; pernah berbuat dzalim, berdusta, dan kesalahan-kesalahan lainnya. Pak tua menyesal. Dia ingin mengulangi kehidupannya dan memperbaiki amal-amalnya. Kepalanya kian menunduk. Hilanglah segala harapan, pupuslah setiap kesempatan. Inilah akhir hidupku, lirihnya dalam hati. Mati di depan regu tembak pasukan Prancis.

Tiba-tiba Napoleon berteriak, “Tiga…!!!” Blup! Gelap!

Tiba-tiba tutup mata pak tua terbuka. Nampak Napoleon berdiri di hadapannya sambil berujar, “Pak Tua, sekarang anda tahu apa yang saya rasakan tadi.”

Kisah ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa orang ketika pada detik-detik menjelang ajal akan keluarlah air matanya, menyesal atas kehidupannya yang tidak baik. Pada saat itu juga ia akan menjadi orang yang insyaf. Namun, detik-detik menjelang ajal tersebut ternyata tidak banyak manfaatnya. Mengapa? Karena tidak ada yang bisa kita ubah sedikitpun dari hidup ketika ajal kita tinggal satu detik. Penyesalan kita, kesedihan kita, harapan kita, tidak akan menjadikan kita kembali hidup untuk memperbaiki diri. saat itu, pintu taubat tertutup. Saat itu juga setiap amal tak lagi ada. Yang ada di hadapan adalah masa penghitungan amal-amal kita. Lalu dari penghitungan amal kita ini nasib kita selanjutnya ditentukan. Apakah kita akan menjadi penghuni Syurga, atau justru sebaliknya, menjadi penghuni Neraka. Dua keadaan ini ditentukan oleh amal-amal kita selama hidup.

Untuk itu, persiapkanlah bekal akhirat sekarang juga. Saat ini juga. Detik ini juga. Karena kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput kita. Sedang apa kita saat ajal tiba, kita juga tidak tahu. Maha benar firman Allah Swt ketika menyampaikan bahwa, beruntunglah orang-orang yang dimasukkan ke dalam Syurga. Semoga di sisa usia kita ini, kita menjadi orang yang senantiasa beramal sholeh; niatnya ikhlas karena Allah Swt, dan caranya benar sesuai tuntunan Syariat Islam. Amin.

“Tidaklah memuliakan wanita kecuali
orang yang mulia, dan tidaklah
menghinakan wanita kecuali orang hina”.

Dalam goresan pena sejarah telah
tercatat bahwa ternyata wanita
(red:muslimah) mampu berada di garda
terdepan dalam berbagai hal baik
melalui sepak terjang perannya dalam
da’wah politik hingga di medan perang
dalam jihad fii sabilillah.

Namun kali ini kita tidak akan mengupas
dalam tentang peran muslimah dalam
kancah perpolitikan karena memang sudah
menjadi keharusan bagi setiap aktivis
da’wah untuk menamatkan pemahamannya
tentang peran politik muslimah. Bahwa
antara pria dan wanita memiliki hak
yang sama dalam peran-peran siyasahnya,
tergantung dari kompetensi masing-
masing mereka dalam bidang yang
digelutinya.

Teringat shirah yang dikisahkan oleh
seorang Al-Ustadz dalam sebuah daurah
siyasah :

Suatu ketika Rasulullah memanggil
kaumnya ”Wahai kaum
muslim…berkumpullah…!”. Maka
berbondong-bondonglah para mujahid
(red:ikhwan) datang memenuhi seruan
Rasulullah. Mendengar seruan itu,
seorang sahabiyah pun datang
memenuhinya dan menyusul di belakang
para mujahid tersebut, hingga para
ikhwan yang hadir ketika itu keherkitan
dan menyorotkan pandangan heran mereka
atas kehadiran sahabiyah itu. Menangkap
keanehan tersebut maka sahabiyah itu
pun berkata kepada mereka : ” Mengapa
kalian heran? Aku juga bagian dari kaum
muslimin (kita minal muslimin…!).”

Yah.., itu jawaban bagi para ikhwan
yang selalu membatasi hak politik
perempuan ataupun yang selalu terheran-
heran ketika melihat akhowat
yang ”dianggap” terlalu vokal dalam
partisipasi politiknya.

***

Ok, sekarang kita kembali ke topik awal
yang kita angkat, yaitu mengenai
KHAULAH. Apa atau siapakah ia? Ialah
Khaulah binti Al-Azwar, sesosok
shabiyah yang menjadi sumber inspirasi
hingga kita begitu greget ingin
mengangkatnya. Dari kisahnya, kita
ingin menyentil sedikit militansi para
akhowat. Berikut shirahnya (kita kutip
dari sebuah buku ”Ketika Wanita Lebih
Utama dari Pria) :

Saat itu, pasukan kaum Muslimin yang
dipimpin Khalid bin Walid berperang
melawan pasukan Romawi yang berada di
bawah pimpinan Herakliuss. Dengan sifat
kesatria dan keberanian yang
dimilikinya, Khaulah pun ikut berperang
dari front belakang dengan tujuan untuk
membebaskan saudara lelakinya, Dharar,
dari tahanan.

Diriwayatkan bahwa Dharar bin al-Azwar
telah ditahan oleh pasukan musuh di
wilayah Ajnadin, maka Khalid bin Walid
pun pergi bersama sekelompok pasukannya
untuk menyelamatkan Dharar.

Di tengah perjalanan, Khalid bertemu
dengan seorang anggota pasukan berkuda
yang membawa tombak. Tidak ada yang
terlihat dari anggota tubuhnya kecuali
matanya saja. Dia berkuda dengan cepat
seorang diri tanpa memedulikan apa yang
terjadi di belakangnya.

Ketika Khalid melihat anggota pasukan
tersebut, dia berkata, ”Sungguh hebat,
siapa anggota pasukan berkuda itu? Demi
Allah, sungguh dia adalah seorang
anggota pasukan berkuda”. Khalid dan
anggota pasukannya terus membuntuti
orang tersebut hingga sampai batas
pertahanan pasukan Romawi. Sesampainya
di sana, sosok berkuda nan misterius
langsung menyerang mereka dan berusaha
menerobos barisan mereka. Dia berteriak
hingga teriakannya itu memporak-
porandakan pawai yang sedang mereka
gelar. Hanya dalam satu kali putaran,
dia sudah keluar dalam keadaan
tombaknya sudah berlumuran darah. Dia
telah berhasil membunuh dan merobohkan
sejumlah pasukan.

Setelah itu, dia pun kembali
mempertaruhkan nyawanya dengan
menerobos kembali barisan pasukan lawan
seorang diri. Dia telah membuat kaum
Muslimin cemas dan penasaran untuk
mengetahui siapa dirinya. Kebanyakan
menyangka dia adalah Khalid. Oleh
karena itu ketika Khalid datang, Rafi’
bin ’Umairah pun berkata, ”Siapa
anggota pasukan berkuda yang maju di
hadapanmu itu?, ”Sungguh , aku tidak
lebih tau dari pada kalian, bahkan
lebih heran terhadap perilaku dan
sikapnya
itu.”.

Ketika pasukan Muslimin sedang
berbincang-bincang, tiba-tiba anggota
pasukan berkuda itu datang, Dia bak
sang bintang yang bersinar. Kudanya
berjalan mengikuti jejaknya. Ketika ada
yang berusaha mendekatinya, dia pun
berusaha menghindar darinya, lalu ia
menempelkan tombaknya ke dada orang
yang ingin mendekatinya. Hal itu terus
dilakukan hingga dia sampai di barisan
kaum Muslimin.

Kaum Muslimin pun langsung
mengelilinginya. Mereka meminta
kepadanya untuk memberitahukan namanya
dan membuka penutup kepalanya, tetapi
orang itu tak mau menjawabnya. Setelah
Khalid mengulangi permintaannya berkali-
kali, akhirnya orang itu mau menjawab
perkataan Khalid.

Dia berkata, :Wahai pimpinan kami,
sesungguhnya alasan mengapa aku tidak
mau memperlihatkan diriku kepadamu
adalah karena aku malu kepadamu, karena
kamu adalah seorang pimpinan yang
agung, sementara aku hanyalah seorang
wanita lemah yang harus tertutup.
Sesungguhnya aku melakukan hal ini
karena hatiku terbakar dan merasa sakit
hati.”

Khalid berkata, ”Lalu siapa engkau
sebenarnya?” Orang itu menjawab ”Aku
adalah Khaulah binti al-Azwar. Tadinya
aku sedang bersama wanita-wanita dari
kaumku, tetapi tiba-tiba seorang datang
memberitahuku bahwa saudara lelakiku
telah ditahan oleh pasukan musuh. Maka,
aku pun segera menaiki kuda, lalu
melakukan apa yang telah engkau lihat.”

Mendengar itu, Khalid dan para
tentaranya berteriak heroik, lalu
mereka pun melakukan penyerangan.
Khaulah juga ikut melakukan penyerangan
bersama mereka. Ia pun terus ikut
berjihad hingga saudara laki-lakinya
dapat diselamatkan.

***

Itulah sosok wanita yang penuh dengan
sikap kesatria namun tawadhu’. Di saat
kaum wanita ”menggantungkan” sikap
pemberani kepada kaum pria, Khaulah pun
memecahkannya. Bahkan dengan
model ”Single Fighter”, Khaulah pun
memorak-porandakan pasukan Romawi.

***

Dalam peperangan lain di wilayah
Shahura, Khaulah ditahan oleh pasukan
musuh bersama para wanita lainnya. Dia
telah berhasil membangkitkan semangat
juang para wanita itu dan mengobarkan
api yang panas dalam hati mereka,
meskipun pada saat itu mereka sama
sekali tidak memiliki satu senjata.

Dia berkata, ”Ambillah tiang-tiang
tenda dan tali-talinya, lalu marilah
kita serang orang-orang yang tercela
itu. Semoga Allah swt akan menolong
kita dalam menghadapi mereka”.
Afra’binti Affar brkata, ”Demi Allah,
ajakanmu itu bukanlah sesuatu yang
biasa kami lakukan.”

Maka setiap wanita pun mengambil satu
tiang tenda, lalu mereka berteriak satu
kali. Khaulah juga mengangkat satu
tiang di atas pundaknya sendiri, lalu
wanita-wanita lainnya pun mengikuti
dari belakang. Khaulah berkata kepada
mereka, ”Sebagian di antara kalian
hendaklah tidak terpisah dengan yang
lain. Jadilah kalian seperti satu
lingkaran dan janganlah terpisah-pisah.
Dengan cara seperti itu, kalian akan
dapat mematahkan tombak-tombak lawan
dan memecahkan pedang-pedang mereka.”

Khaulah pun mulai menyerang, demikian
juga wanita-wanita yang lainnya. Mereka
berperang layaknya orang-orang yang
tidak takut mati, hingga akhirnya
mereka pun menyelamatkan diri mereka
dari cengkeraman tanga-tangan pasukan
Romawi. Ketika berhasil keluar, Khaulah
berkata,

”Kami adalah wanita-wanita seperti
bayangan keledai

Kami telah menghantam pasukan lawan.
Dan tidak ada seorang pun yang
mengingkari hal itu

Karena ketika berada dalam peperangan,
kami adalah seperti api yang menyala-
nyala

Pada hari ini, kalian akan merasakan
siksaan yang
terbesar.”

Seperti yang kita
katakan sebelumnya, bahwa Khaulah
adalah sumber inspirasi bagi para
mujahidah. Kisahnya bukan hanya abadi
di shirah-shirah sahabiyah, namun telah
menginspirasi saudari-sudari kita di
belahan bumi yang sedang bergolak,
dimana harga diri Islam sedang diinjak-
injak.. Tahukan kita, bagaimana bentuk
jihad para mujahidah di bumi suci
Palestina? Ternyata muslimah memiliki
pengaruh terbesar terhadap perjuangan
di sana. Sebagian besar peran
penyamaran melalui kendaraan-kendaraan
pengintai di area musuh diperankan oleh
para mujahidah! Bahkan tak sedikit yang
melakukan jihad melalui bom syahid.

Namun perlu diketahui bahwa kisah
Khaulah bukan untuk membuat para ikhwan
menjadi ketakutan atau bergidik pada
akhowat2 seperti Khaulah. Sebab ”Wanita
adalah saudara kandung (partner) laki-
laki”. Sebab ”pernyataan dan sikap”
perang hanya ditujukan bagi para musuh
Allah. ”Isyhiduu biannal muslimuun!!!”

Sungguh pengalaman heroik sangat
dibutuhkan oleh para ikhwan maupun para
akhowat. Tetapi perlu diingat
mujahidah.. bahwa pengalaman heroik
bukan hanya berupa mengalaman lantas
merasa bangga telah melaluinya, setelah
itu berleha-leha tanpa usaha
mempertahankan militansi dan kekuatan
jasadiyah tentunya. Sebab boleh jadi
hari ini negeri kita aman, tapi
bagaimana dengan besok??? Maka
tanamkanlah selalu dalam diri dua
kata ”Siap Siaga”. Bagaimana caranya?
Tingkatkan militansi dan kualitas
diri!!!

***

Dan pengumuman untuk para
mujahidah… : ”Dicari : Khaulah Masa
Kini…!!!” Who next

(Dari Sahabat)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.