BKIM IPB


Oleh : Agung Setia Bakti
Sumber : Suara Merdeka

Bogor, CyberNews. Orang yang melakukan aborsi diyakini akan mengalami resiko kesehatan dan gangguan psikologis.

Pada saat melakukan dan setelah melakukan aborsi seorang perempuan bisa mengalami kematian mendadak karena pendarahan hebat, pembiusan gagal, kematian lambat akibat infeksi, rahim sobek, kerusakan leher rahim, kanker payudara, kanker indung telur, kanker leher rahim, kanker hati, kelainan plasenta, kemadulan, infeksi ronga panggul dan infeksi lapisan rahim.

Pendapat tersebut dikemukakan oleh Dr Boyke Dian Nugraha, Ginelog dan Konsultan Seks dalam sebuah acara seminar yang digelar Badan Kerohanian Islam Mahasiswa IPB Bogor.

Mayoritas perempuan pelaku aborsi, terang Boyke, secara psikologis akan menderita. “Penelitian menunjukkan mereka kehilangan harga diri (82%), berteriak-teriak histeris (51%), mimpi buruk berkali-kali mengenai bayi (63%), ingin bunuh diri (28%), terjerat obat-obatan terlarang (41%) dan tidak bisa menikmati hubungan seksual,” tandas Ayah dari dua anak itu.

Sementara itu, pembicara lainnya Ridha Salamah, Sekretaris Jenderal Muslimah Peduli Umat menguraikan legalisasi aborsi merupakan agenda global untuk menghancurkan keluarga Indonesia khususnya keluarga muslim.

“Legalisasi aborsi bukan sekedar masalah kesehatan reproduksi lokal Indonesia, tapi sudah termasuk salah satu pemaksaan gaya hidup kapitalis sekuler yang diprograndakan PBB melalui ICDP (International Conference on Development and Population) tahun 1994 di Kairo Mesir,” kata Rida, sebagaimana dilansir Prohumas IPB..

Legalisasi aborsi akan mendorong pergaulan bebas lebih jauh dalam masyarakat. Orang tidak perlu menikah untuk melakukan hubungan seks. Sedangkan, pelepasan tanggungjawab kehamilan bisa diatasi dengan aborsi. Lebih jauh dia mengatakan, aborsi dilarang dalam Islam .

Untuk mencegah semua itu, Ibu yang sedang mengandung ini mengemukakakan solusi berupa perbaikan paradigma sehat, regulasi sistem sesuai aturan Allah dan masyarakat berfungsi sebagai control sosial yang terpercaya dalam memperbaiki kebobrokan sistem masyarakat yang ada.

Sedangkan Ina Yuniati, Subdit Kebidanan dan Perawatan Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI mengakui bahwa upaya legalisasi aborsi merupakan agenda global dan sedang diratafikasi oleh berbagai negara di dunia.

“Sayangnya, meski negara kita masih meninjau kemungkinan apakah mau melakukan ratifikasi itu atau tidak, ternyata secara diam-diam banyak lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang di danai yayasan dari negara asing melaksanakan agenda ratifikasi itu di masyarakat bawah,” keluh Ina.

Sedihnya lagi, kata dia pelakunya terdapat pegawai Depkes yang merangkap jabatan di LSM tersebut. “Mereka membawa-bawa nama Depkes dalam programnya sehingga seolah-olah telah dilegalkan pemerintah,” imbuhnya.

Oleh : MH.Habib Shaleh
Sumber : Suara Merdeka

Bogor, CyberNews. Wakil Rektor I IPB Prof Dr Ir Ahmad Chozin yakin Institut Pertanian Bogor (IPB) akan menjadi perguruan tinggi bertaraf internasional.

”Dengan berbagai potensi dan keunggulan yang ada, saat ini, IPB mempersiapkan diri untuk mendapat pengakuan dunia sebagai perguruan tinggi World Class University (WCU) sesuai visi dan misinya,” papar Ahmad Chozin.

Hal ini diungkapkan Ahmad Chozin dalam acara Dialog Nasional Peduli Pendidikan bertema ”Maju Kampusku Maju Negeriku Towards World Class University” yang diselenggarakan Unit Kegiatan Mahasiswa Badan Kerohanian Islam Mahasiswa (UKM BKIM) IPB.

Praktisi Pendidikan dan dosen Universitas Gajah Mada, Dwi Condro Triono, M.S menambahkan tidak hanya hanya IPB, bahkan banyak perguruan tinggi di Indonesia mampu bertaraf internasional apabila ada political will dari pemerintah mengenai dana pendidikan.

Dwi Condro menggambarkan Malaysia mengalokasikan anggaran dana pendidikan sebanyak 25 % dari total Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). ”Jumlah ini tidak berubah dari tahun ke tahun. Walhasil, kualitas pendidikan di sana meningkat pesat jauh di atas Indonesia. Bahkan yang dulunya mereka belajar ke Indonesia, kini banyak orang Indonesia belajar ke sana,” ujar Condro.

Kesejahteraan doktor dan profesor di Malaysia mendapat perhatian lebih dari pemerintah, sehingga doktor dan profesor selalu stand by dan fokus dalam membimbing mahasiswa. Gaji doktor Malaysia sekitar Rp 25 juta per bulan dan Professor Rp 50 juta per bulan. Wajar bila dana penelitian di Malaysia sangat melimpah.

Di Malaysia, kedokteran dan pertanian merupakan bidang favorit yang diminati mahasiswa, berkebalikan dengan di Indonesia yang hanya melihat pertanian dengan sebelah mata. Dwi Condro menyatakan, masalah utama pendidikan tinggi di Indonesia adalah ketidakmampuan anggaran negara. Negara mengalokasikan dana pendidikan 11.8 persen dari total Rp 647,4 trilyun APBN.

Jumlah tersebut masih dibagi-bagi lagi untuk pendidikan dasar, menengah dan tinggi. Jumlah total APBN Indonesia masih di bawah pendapatan per tahun perusahan swasta, PT Free Port yakni lebih Rp 700 trilyun. “Indonesia sebenarnya sangat kaya sumberdaya alam, namun kenapa APBN lebih kecil dari pendapatan swasta. Ada yang salah dalam pengelolaan sumberdaya alam negeri ini,“ tandas Dwi Condro.

Menurut kandidat Doktor salah satu universitas di Malaysia ini, minimnya alokasi dana pendidikan tinggi dari pemerintah, menuntut perguruan tinggi untuk giat mencari tambahan pemasukan dengan berbagai kegiatan corporate generating income. Akibatnya, iklim dunia pendidikan Indonesia makin kurang kondusif.

“Penelitian mahasiswa terfokus untuk mengejar target cepat lulus agar dapat langsung kerja. Aktivitas dosen pun kurang fokus terhadap pengajaran, perkuliahan dan membimbing mahasiswanya. Dosen kadang juga terjebak untuk mengejar target gelar doktor dan profesor demi kenaikan pangkat,” urainya lugas.

Selain faktor utama dana, kualitas pendidikan juga ditentukan oleh faktor sistem kurikulum pendidikan nasional

Ada dua orang pengembara sedang melakukan perjalanan. Mereka tengah melintasi padang pasir yang sangat luas. Sepanjang mata memandang hanya ada pasir membentang. Jejak-jejak kaki mereka meliuk-liuk di belakang. Membentuk kurva yang berujung di setiap langkah yang mereka tapaki. Debu-debu pasir yang beterbangan memaksa mereka berjalan merunduk.

Tiba-tiba badai datang. Hembusannya membuat tubuh dua pengembara itu limbung. Pakaian mereka mengelepak, menambah berat langkah mereka yang terbenam di pasir. Mereka saling menjaga dengan tangan berpegangan erat. Mereka mencoba melawan ganasnya badai.

Badai reda. Tapi, musibah lain menimpa mereka. Kantong bekal air minum mereka terbuka saat badai tadi. Isinya tercecer. Entah gundukan pasir mana yang meneguknya. Kedua pengembara itu duduk tercenung menyesali kehilangan itu. “Ah.., tamat riwayat kita,” kata seorang di antara mereka, kita sebut saja pengembara pertama. Lalu ia menulis di pasir dengan ujung jarinya. “Kami sedih. Kami kehilangan bekal minuman kami di tempat ini.” Kawannya, si pengembara dua pun tampak bingung. Namun, mencoba tabah. Membereskan perlengkapannya dan mengajak kawannya melanjutkan perjalanan.

Setelah lama menyusuri padang pasir, mereka melihat ada oase di kejauhan. “Kita selamat,” seru salah seorang di antara mereka. “Lihat, ada air di sana.” Dengan sisa tenaga yang ada, mereka berlari ke oase itu. Untung, bukan fatamorgana. Benar-benar sebuah kolam. Kecil tapi airnya cukup banyak. Keduanya pun segera minum sepuas-puasnya dan mengisi kantong air.

 Sambil beristirahat, pengembara pertama mengeluarkan pisau genggamnya dan memahat di atas sebuah batu. “Kami bahagia. Kami dapat melanjutkan perjalanan karena  menemukan tempat ini.” Itu kalimatyang dipahatnya. Pengembara kedua heran. “Mengapa kini engkau menulis di atas batu, sementara tadi kau menulisdi pasir?”

Yang ditanya tersenyum. “Saat kita mendapat kesusahan, tulislah semua itu di pasir. Biarkan angin keikhlasan membawanya jauh dari ingatan. Biarkan catatan itu hilang bersama menyebarnya pasir ketulusan. Biarkan semuanya lenyap dan pupus,” jawabnya dengan bahasa cukup puitis. “Namun, ingatlah saat kita mendapat kebahagiaan. Pahatlah kemuliaan itu di batu agar tetap terkenang dan membuat kita bahagia. Torehlah kenangan kesenangan itu di kerasnya batu agar tak ada yang dapat menghapusnya. Biarkan catatan kebahagiaan itu tetap ada. Biarkan semuanya tersimpan.”

Keduanya bersitatap dalam senyum mengembang. Bekal air minum telah didapat, istirahat pun telah cukup, kini saatnya untuk melanjutkan perjalanan. Kedua pengembara itu melangkah dengan ringan seringan angin yang bertiup mengiringi.

 Saudaraku, kesedihan dan kebahagiaan selalu hadir. Berselang-seling mewarnai panjangnya hidup ini. Keduanya mengguratkan memori di hamparan pikiran dan hati kita. Namun, adakah kita bersikap seperti pengembara tadi yang mampu menuliskan setiap kesedihan di pasir agar angin keikhlasan membawanya pergi? Adakah kita ini sosok tegar yang mampu melepaskan setiap kesusahan bersama terbangnya angin ketulusan?

 Saudaraku, cobalah untuk selalu mengingat setiap impian yang ingin kita raih bersama. Karena sesungguhnya disana akan kita raih sebuah kebahagian yang hakiki.Ya… kebaikan dan kebahagiaan yang akan kita miliki. Simpanlah semua itu di dalam kekokohan pikiran&hati kita agar tak ada hal yang mampu memupuskannya hingga kita lepas dalam perjuangan ini. Torehkan impian akan kemenangan& kebahagiaan itu agar tak ada angin kesedihan yang mampu melenyapkannya. Insya Allah, dengan begitu kita akan selalu optimis dalam mengarungi perjuangan dakwah ini. Wallahualam

Renungan untuk para pengurus BKIM 2007/2008

Salam Perjuangan!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.