Bertanyalah kita. Hari ini. Sejenak
saja. Kepada diri sendiri. Tentang
sebuah lambang keberartian dan makna
hidup yang sangat mendalam; kelayakan
untuk dicintai, Maka, layakkah kita
untuk dicintai?

Ya, layak untuk dicintai adalah sebuah
lambang keberartian. Sebab cinta tidak
diperuntukkan untuk padang jiwa yang
hampa. Tidak juga untuk karya-karya yang
tidak bermakna. Hanya bila kita berguna,
kita layak untuk dicintai. Hidup tidak
akan memberikan ruang pada orang-orang
yang kikir, yang hanya bisa merusak
tanpa bisa membangun. Yang hanya pandai
mengkhianati, menyakiti dan tak pernah
berdaya untuk merajut kembali. Yang
hatinya beku dan tak mampu untuk
mengilhami. Hanya bila kita berarri,
maka kita layak untuk dicintai.

Kelayakan untuk dicintai adalah sebuah
definisi dari sebuah kapasitas diri.
Kapasitas yang diukur dari sejauh mana
kita memiliki harga dalam wujud amal
yang nyata dan peran-peran yang
terbukti. Bukan status apalagi sekedar
hiasan performa dan gincu-gincu kepalsuan.

Nilai umum bagi orang yang layak
dicintai, adalah kemanfaatan dirinya
bagi kehidupan, bagi sesama, dan bagi
keberlangsungan dirinya dan orang lain.
Ini bukan hanya pesan bagi orang-orang
yang sedang memburu cinta, para pemimpin
yang mengais-ngais cinta rakyatnya.
Presiden yang merayu-rayu cinta
pemilihnya. Tapi juga untuk siapa saja
yang ingin mendapatkan kelayakan untuk
dicintai.

Layakkah kita untuk dicintai adalah
sebuah pesan sosial yang menegaskan
bahwa keberadaan kita dikehidupan ini,
dirumah, ditempat kerja, dikampus,
dimasyarakat, harusnya mencerminkan
kehidupan yang menjawab pertanyaan
tersebut. Siapa yang tidak berguna, yang
tidak memberikan manfaat bagi kehidupan
ini sesungguhnya memang tidak layak
untuk mendapatkan cinta.

Bila manfaat dan keberartian merupakan
labuhan cinta, maka sumber dan mata air
keberartian itu ada pada kekuatan
kejujuran, dalam pengertian yang sangat
luas. Sebabnya adalah, kejujuran itu
yang akan memberi kita kekuatan untuk
selalu meniti sesuai dengan arah dan
alur yang telah ditetapkanNya. Sebab
disanalah tempat untuk memberi kekuatan
dan menemukan mata airnya. Pada wilayah
kebersamaan dengan orang lain,kejujuran
adalah garansi yang menjamin
ditunaikannya hak orang lain dari diri
kita, dalam bentuk apasaja…

Aku Cicin Yulianti, anak ke-2 dari 2 bersaudara. Sedari kecil aku terbiasa dalam kemandirian. Papah adalah seorang pekerja yang ulet, mamah adalah seorang ibu yang penuh tanggung jawab dalam pendidikan anak-anaknya, dan kakakku adalah seorang yang darinya aku banyak belajar tentang makna perjuangan dan kemandirian. Mamah dan papah adalah 2 insan dengan karakter yang sangat bertolak belakang. Mamah sangat tegas sedangkan papah sangat lembut. Aku memang seringkali dimanjakan oleh papah, namun hari-hariku banyak bersama mamah di rumah. Mamah dan papah yang mengajari aku dan kakaku untuk hidup tak bergantung pada orang lain, berdiri atas usaha kami sendiri dan tidak melupakan orang-orang yang telah memapah kami. Dan mamah papah lah yang selalu memaksa kami untuk selalu merasa tidak puas dengan apa yang telah kami peroleh saat ini, khusus bagiku adalah ilmu pengetahuan.

Aku sangat mencintai mamah karena ketegasannya, aku mencintai papah yang dengan begitu sabar menghadapi seorang insan tegas yang biasa aku sebut ”mamah”. Akupun begitu mencintai kakakku karena kemandirian dan keuletannya. Yaa Rahman, aku sangat mencintai keluargaku karenaMu… Pertemukanlah kami dalam naungan keridlaanMu yaa Malik…

Advertisement